السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Hello Kawand! Kali ini, aku mau review salah satu cerpen dari buku
yang berjudul "Kumpulan Cerpen Islami: I Just Wanna Say, I Love You!!!"
karya Lulu El-Maknun. Selamat membaca 😊
Janji Mentari
KUPUJA asma Allah di kesejukan udarayang kuhirup. Kubingkai ribuan
syukur yang menyemak di hati. Pada segala ni'mat Tuhan yang telah kuterima.
Pada hawa sejuk yang memenuhi ronggarongga dada. Aku terbuai dalam puncak
syukur. Betapa hanya dengan kuasa-Nyalah hari ini. aku wisuda.
Namun ada sekat menyungkit-nyungkit dada. Ada sesal berat menggayut.
Pasalnya. ayah dan umi ngga’ bisa hadir menyaksikan ceremony
kelulusanku. Aku maklum sich, jarak antara Indonesia dan Cairo ngga’ dekat. Ada
sedikit iri menyaksikan sobat-sobat. Di hari bahagia ini mereka diberi izin
oleh Allah mengabadikan bersama family mereka. Biar kutelan sendiri
cemburuku. Aku toh bukan anak bontot yang mesti merengek-rengek minta mereka
jauh-jauh ke sini menyaksikan cumlaudeku. Allah sebaik-baik stiradara.
ko'!
“Akh Willy! Assalamu’alaikum!” suara lembut Maysarah menegurku.
“Wa'alaikumsalam!” aku membalikan tubuh menghadapnya. Sedikit terkejut.
Maysarah menghampiriku bersama orang tuanya. Kusapa mereka ramah.
“Assalamu’alaikum!” disusul dengan meraih punggung tangan mereka.
Menciumnya ta’ zim.
“Ya Wildan, mata tarji’ ilal bayt?”
logat berat dosen kelas kakap itu sangat familiar.
“Godan stadz InsyaAllah!” jawabku
hormat.
“Ma syai’. Ballig salaami ma’a abuka!”
Ayah May menjabat tanganku hangat. Jujur, aku sampai ge’er. Jarang loh
mahasiswa Al-Azhar yang berhasil menarik hati profesor yang satu ini. Apa
karena aku setuju jadi calon menantunya yah? Wah ge’erku semakin menjadi.
“Toyib akh, narji’ awalan!”
May mengakhiri pertemuan.
“Assalamu’ alaikum!" pamitnya manis.
"Wasalaikumsalam warahmatullah!" kulepas pertemuan
singkat ini dengan dada menderu.
Umi May begitu menjaga perilaku sehingga terkesan pendiam. Ayah May
selalu tampak wibawa dan gagah. Aku jadi berangan, bilakah tiba saatnya aku dan
Mayyang seperti itu. Huss! Sudah. Ngelantur aja.
♥♥♥♥♥
Jarak antara fakultas dan asrama cukup jauh. Al-Azhar bukan kampus yang
kecil. Ribuan mahasiswa giat menuntut ilmu. Kadang aku merasa termasuk orang yang
beruntung. Di tengah kemelul krisis dan kecamuk konflik di tanah air. aku masih
diberi kesempatan oleh Allah untuk mencari ilmu. Di Al-Azhar pula! Sebuah
kampus yang sejak MTs menjadi cita-citaku. Dan kini, setelah lima tahun. aku
berhasil merampungkan studiku. Ahmad Wildan Wahyuddien. Lc.
Berat rasanya meninggalkan Cairo. Banyak sekali kenangan yang terukir
di sini. Kulepaskan pandangan keluar jendela. Dari lantai 20 ini aku biasa
menyaksikan beragam peristiwa yang melewati hidupku. Dari mula pertama aku tiba
di Cairo. Hingga kini saat tiba waktunya kembali. Kubiarkan hayal dan angan berserak
dalam benak. Kurelakan lembut angin sore menyapu rambuku. Kalau boleh jujur,
ingin rasanya mereward masa kembali. Saat-saat belajar dan menghafal.
Saat-saat keletihan meraup ilmu. Segala cerita tentang suka dan duka.
Dan lagi sejak masa ujian akhir, aku sedang dekat-dekatnya deng
Maysarah. Kalau sekarang aku mesti kembali. rasanya terlampau berat. Berat
meninggalkan Cairo, berat meninggalkan kampus, berat meninggalkan kenangan.
berat meninggalkan...May. Kami memang tidak pernah punya ikatan. Hanya sering
sepaham dalam kajian dan diskusi menumbuhkan rasaku padanya. Sepertinya dia pun
sama. Tapi mengapa rasa ini bersemi ketika aku harus bersiap-siap mengabdikan
diri kepada ilmu pengetahuan di kampung halamanku.
Dalam hati kuberdoa, wahai mentari jingga di ufuk senja, berjanjilah
padaku. Jika kau selalu setia menjaga cinta dengan sinarmu. Maka pertemukanlah
aku dengan muslimah yang paling baik untukku. Menemani perjuanganku. mendukung
perjalananku. Dan berama kami meniti langkah mencapai mardotillah.
"Will, congratulation!" tiba-tiba Shane menegurku.
Senyum khasnya masih seperti dulu. Saat kami baru sekamar di asrama ini.
"Syukronl" jawabku.
"And when you get home? I’ll be missing you!” Shane
merajuk. Dasar si bontot.
"Tomorrow mybe. we can sending e-mail isnt'it?”
kutepuktepuk pundak Shane. Di kamar ini kami cuma berdua sejak tahun pertama.
Karena belum menyelesaikan SKS dia belum boleh lulus.
"Don't forget. someday. ifyou come to Cairo again, mybe you
want to meet Maysarah. come to here!" godanya berbisik. Aku menjawabnya
dengan satu cubitan gemas di perutnya.
"Aaauw! Shit!" Shane meringis sambil memegan8i
bulatnya.
Segala cinta, segala cerita. Biarlah terukir dalam palung.
♥♥♥♥♥
Haru banget! Ayah merangkulku erat. Tenggorokanku tercekat.
Titik-titik bening tak tertahankan. Lima tahun sudah aku memohon restunya
meninggalkan rumah. Bergantian umi memelukku. Mengusap kepalaku. Aku merunduk
hingga sebahu. Alhamdulillah, beribu pujian bertabur.
Adikku satu-satunya. Raihan Maulana membantu mengangkat koper-koper
ke bagasi. Tahun ini dia kelas Ⅲ SMA katanya. Sudah seganteng aku dia!
Tiba di rumah ada sedekahan keluarga. Saudara jauh berdatangan
memberiku selamat. Aku terbawa suasana. Lelah seketika sirna. Padahal belum
sempat istirahat. Dan lelucon klasik menyerangku dari berbagai penjuru.
"Udeh ganteng, Pinter. siapeye kire-kire jodohnye?" Ncang
Rohim mulai mengeluarkan jurus joke-nya. Wah! Mulai dech. Mukaku memerah.
"Lha Cang, jangan kuatir. Urusan ntu mah udeh ade nyeng
ngatur, bukan begitu Dan?" bela Ncing Sahara. Sedikit lega. Aku hanya
mengangguk. Sambil senyam-senyum.
"Bukannye begitu. Ni perjake kalo musti jadi ama orang yang
kage sekufu pan sayang jadinye!" tangkis Ncang Rohim. Ayah dan umi cuma mesem-mesem.
Bantuin dooong. batinku.
"Ehm. kali-kali aje di Arab sono ade nyeng nyantol! Pan orang sono
idungnya bangir-bangir katenyel" Rai ikut-ikutan. Aku mendelik. Dalam
hatiku meniyakan tapi pura-pura marah. Jaim! Iya May bangir ko.
“Pegi mane ni. Bang?" alis mata Ncing Sahara naik turun. Lirikannya
tak lepas dariku. Membuatku tersapu-sapu. nah lho?
"Yaah. namenye jodoh mah kita balikin ama Tuhan dah. Tapi bener
juge Sich kate si Rohim. Nyari jodoh musti nyeng sekufus” Ayah beropini ake
dari bijak. Aku Cuma manggut-manggut.
“Make dari pade itu. Gue udeh nyiapin bakal bininya si Wildan” Ayah
melanjut. Deg! Oh my go!
“Kita kenalin die ma bontotnya Aji Burhan Kadepag Cilandakl Nameye...Fiki
kalo ngga saleh!" komentar ayah kali ini bikin jantungku berdebak-debuk.
"Jangan piki-piki
Beh?" rinci Rai.
"Namenye Fiki Faradaise! Kalo ngga saleh lagi nih. Dia udeh S1
jurusan Manajemen Pendidikan di
UIN Syarif Hidayatullah Jakarte!" sambung ayah.
Dan kepalaku jadi penat. Akhirnya kuputuskan pamit ke kamar untuk
istirahat. Sebelum beranjak aku berpesan pada yang lagi ngeriung.
"Ehm, semuanye. Kalo boleh...." Aku ragu meneruskan
"Boleeeeh...!" yang lain serempak memberondong.
"Say mau istirahat dulu. Dan untuk masalah ini. saya…belum
siap bicara banyak!" tegasku.
Tanpa kuduga mereka malah menjawabku. "Iye deh. lu istirahat
dulu sono. Urusan ini mah biar kite-kite nyeng ngatur…”
Aku tak berdaya. Dan sepeninggalanku dari ruang itu masih kudengar
samar mereka bercengkrama. Ngomongin aku!
♥♥♥♥♥
Kulempar kerikil-kerikil tak bersalah itu ke kolam. Ikan-ikan di
kolam ini mungkin bingung demi melihat orang seganteng ini bermudurja. Rai
tampak asyik dengan pancingnya. Dan sehembus angin menggerai-geraikan rambutku yang
sebahu. Bete. Bingung. Dan... kangen!
Aku ngga' ngerti dan ngga’ tau lagi gimana caranya menghindar dari
perjodohan ini. Salahku tak langsung mengelak. Dan bayang-bayang May mengusik
kekosongan hati. Senyumnya mengukir lesung pipit di kedua pipinya. Ach! Kaya’nya engga’ mungkin aku bisa menggantikan
sosok cerdas May dengan warıita lainnya. Terlebih lagi, aku ngga' pernah kenal yang
namanya Fiki. Mungkin benar kata Rai tempo hari. Jangan piki-piki!
"Daaaan...!" tinggi suara Rai memanggil. Aku baru sadar
kalau dia sudah menghentikan aktifitas memancingnya sejak tadi. "Dipangil
nyokaaap! Kita udah siap mau berangkaaat," sambungnya
" Iyaaaa…” sahutku tak kalah merdu. Hampir percis kaya di
hulan. Aku Tarzannya dan Rai monye... "Daaaaan cepeeeet!" teriaknya
lagi. Aku ngga’ berdaya. Kubuang sebatang rumput yang sudah pipih
kugigit-gigit.
Hari ini ayah dan umi mengajakku ke rumah Haji Burhan. Silaturrahmi
katanya. Tapi maksudnya jelas: mengenalkanku pada si Piki-Piki.
"Sudah siap? Cabuuut!" Rai cuwek beibeh mengenakan kaos "Drem
Theater" kesayanganya. Sementara aku? Rapih berkemeja dengan rambut
dikuncir kuda.
Duhai Mentari. langan pernah ingkar janji untuk tidak terbil esok
hari. Jangan pernah ingkar janji untuk tidak menyemai cinta hari ini. Hatiku
deg-deg plas!
Rai mengemudikan Panther perlahan.
♥♥♥♥♥
Yang namanya Fiki cukup manis dan sopan. Sepertinya dia seorang
akhwat sejati. Dia tidak memandangku sedikit pun. Wajahnya tertunduk dałam. Dan
aku berhasil mencuri sketsa wajahnya yang terpantul dari kaca meja yang ia
tekuni. Ketika pamit masih kulihat bulu mata lentiknya. Segaris senyumyang
teramat manis dan... lesung pipit di pipi sebelah kiri. Namun demikian. belum
bisa menggantikan kecantikan May dałam pusara hatiku.
"Terlalu kalem Dan. ngga pantes sama elu yang brekele’!" Rai
ngga’ ada sopan-sopannya komentar keesokan harinya. Aku cuma nginyem. Belum tau
dial
"Makannya Dik. Kakamu yang keche ini lagi bingung banget!"
sahutku. "Bingung kenapa? Dapat anugerah ko’ bingung? Mestinya cewe’ itu yang
bingung. Dan, Ya Allah, dosa apa yang sudah aku perbuat sehingga harus mendapat
balasan musibah ngedapetin całon suami bajakan kaya’ Wildan!" Rai nyerocos
memandang langit-langit kamar yang banyak ciceknya. Ngga’ sopan!
"Sebetulnya. pengen nolak Rai. Tapi apalah daya. Ga’ tega
sama umi!" aku melemparkan pandangan jauh ke luar lendela. Dan mendarat di
kerlip gemintang malam ini. Suiiiing. Teplukl
Rai yang sedang asyik gigitan tułup pilot terhenyak. Tułup pilotnya
hampir tertelan. Untung bisa diselamatkan. Terbatuk-batuk Rai menghampiriku. Ronanya
cemas.
"Abang udah punya cewe’yah?" tanyanya gusar. sambil
mengurut kerongkongannya. Tumben manggil abang. Aku mengangguk pelam dan
kembali terpekur di bibir jendela.
Tanpa diundang cercah-cercah memori melintas menari-nari. Seriwing
angin menambah syahdu galau hati malam ini. Duhai cinta, sedalam inikah rasamu?
♥♥♥♥♥
Sesuai saran Rai. aku menghubungi May. Dengan jiwa dia ucapkan
selamat padaku. Dia sih bilangnya ikhlas. Asalkan aku bahagia. Padahal kan aku
maunya dia ngga’ ikhlas. Minimal sesegukan ke’l. Tapi May memang bukan tipe
perempuan lemah. Didikan Prof. Dr. Abdullah Jabbar. MA mengajarkannya berani menghadapi
segala fenomena dan dinamika hidup.
Karena cara yang kutempuh lewat telepon, dan ini akhir bulan. Maka
aku yang kebagian tugas membayar tagihan telepon. Yah itung-itung belajar
nyetir. Dan jadilah sore ini pertama aku ke Mall, letak kantor telkomnya berada
di lantai 3 Grand mall.
Suasana Mall hari Sabtu lumayan ramai. Rai ngga’ bisa ikut karena
sedang menghadapi UAN. Jomblo dech. Belum jauh langkahku memasuki pintu utama,
ada sekelabat bayang yang menggetarkan dadaku. Fiki! ltu kaya Fiki! Ngga salah
lagi, itu pasti Fiki! Tapi... ngapain dia ikut-ikutan? Mana gamis derai-derainya?
Ko' bisa dia ikutan acara kaya’ begini? Nge-drum lagi? Ya Allah. sudah rabunkah
indera penglihatanku? Kudekati panggungyang dikerumuni anak-anak ABG. The
Best Band Audition 2007. Begitu kira-kirayang tertulis dalam backgroundnya.
Wah! Bisa komplain donk! tapi otak bijakku bicara lain. Kutunggu
sampai Fiki menyudahi tugasnya mengiringi lagu Bring Me to Life-nya
Evanessance.
Ketika kuhampiri Fiki tampak sibuk. Sebelum berhasil kudekati Fiki
sudah bergabung dengan rombongannya. Kostumnya cuwek abis! Pakai jilbab kecil,
lepis belel, kaos hitam lengan panjang dan engga’ ada mirip-miripnya sama
akhwat pemalu yang baru kemarin kutemui. Dan aku mesti rela kehilangan jejaknya
ketika seorang ibu gemuk terjatuh dengan belanjaan berhamburan.
"Ganteng-ganteng ngga’ punya mata!" maki ibu itu.
"Maaf, Bu!" aku cuma bisa istighfar.
♥♥♥♥♥
“Ga' mungkin Bang!" dengan kedewasaanku Rai sudah terbisa memanggilku
abang.
“Ya udah, kamu cari tau ya Rai. Nama band-nya… apa yach. Oh ya
Chimoet GX!” ujarku sambil merapihkan ijazah, sertifikat dan piagam penghargaan
yang kuperoleh selama studi.
“Oche dech Bang. buat Abang apa sich yang nggas aku lakuin?” gombalnya.
“Iya. percaya-percaya! Laptop itu boleh buat kamu ko’!"
jawabku santai sambil menyeruput orange juice buatan sendiri.
“Lho ko’ Abang tau aku kepingin banget laptop Abang?" tanyanya
pura-pura bodoh.
“Ya tau lah, Abangmu ini kan pengertian!" aku mengangkat alis.
Tapi hingga beberapa second alis yang kuangkat ga’ turun-turun. Nah Iho! Gimana
nih? Rai tolongin dong!
♥♥♥♥♥
Ini tugas pertamaku di kantor ayah. Urusan pemberangkatan haji.
Karena data yang kubutuhkan tidak ada maka aku harus mencari informannya
langsung. Dia bekerja sebagai staff pengajar di MA. Annida. Terpaksa aku ke
sana. Mungkin konsepan Tuhan demikian. Aku dipertemukan dengan Fiki di sekolah
ini. Dia tidak mengenakan kostum se-ancur kemarin. Tapi juga tidak mengenakan
gamis merah marun derai-derai. Kali ini Fiki mengenakan busana stelan, rapih.
Kuberanikan menanyakan langsung padanya.
“Fiki, sedang apa di sini?" tanyaku setelah jarak antara kami
cukup dekat.
“Lho. Kak Willy yang sedang apa? Fiki mengajar di sini!"
jawabannya mengagetkanku. Pasti baru mulai karena waktu perkenalan tempo hari
ayahnya mengatakan Fiki baru saja diwisuda dan belum mendapatkan pekerjaan.
Niatanku untuk bertanya lebih lanjut pupus. Karena bel masuk berbunyi.
Andai kcsempatan itu kuperoleh aku akan bertanya kamu tiga bersaudara yah? Dan
setelah mendapatkan data aku kembali ke kantor dengan membawa banyak sekali tanda
tanya???
♥♥♥♥♥
Malam ini. Kutadahkan kedua tangan. Bermohon dan bermunajat
pada-Nya. Sang Pemilik Segala. Kuadukan cacah ricah hali ini. Memohon petunjuk
dan hidayah. Rencana pertunangan yang disepakati sudah kian dekat. Namun
rasanya belum juga aku menemukan titik terang. Siapakah yang akan mendampingi
perjuanganku. Melahirkan jundi-jundiku. Diakah yang bermahkotakan akhlak mulia
dengan gamis panjang menutupi auratnya. Diakah yang mengabdikan hidupnya
mengajar dengan metode yang sudah modern itu? Atau diakah yang menyukai musik
keras dan sangat bertentangan denganku? Pada segala gerik di hatiku kuserahkan.
Pada segala daya dan kelemahanku kupasrahkan. Hanya pada Engkau Wahai
Segalayang Serba Maha.
Seminggu menjelang pernikahan. Nekat kudatangi rumahnya tanpa
pemberitahuan sebelumnya. Samar kudengar suara musik mengalun. Kubelokan
langkah. Bukan menuju pintu utama, tapi ke belakang. Kebun yang asri
menghamparkan bebungaan. Pohon apel besar angkuh berdiri di sudut taman. Sebuah
bangunan kecil namun artistik adalah sumber alunan musik itu. Aku melangkah
maju dan suara musik itu berdegum-degum. Semakin dekat kian menghentak-hentak.
Alangkah terkejutnya ketika kulihat Fiki sedang nge-Drum sendirian! Dan dia pun
tak kalah kaget. Dengan jilbab dia keluar menghampiri ku.
“Kak Willy! ko ga' ngasih tau dulu kalo mau datang?” Dan sapanya
kujawab pahit. “Sertinya kita tidak cocok!” bagaimana tidak? Aku yang lulusan
Cairo harus menikah dengan gadis funky macam dia. Seleranya saja berbeda! Pola
pikirnya pasti berbeda juga. Sangat tidak mungkin kalau aku disatukan dengan
perempuan ini. Pikirku. Dan entah setan apa yang sedang mempengaruhiku, aku
meninggalkannya tanpa memberinya waktu menjeiaskan semuanya.
♥♥♥♥♥
Dan kini. Aku mesti menyesali semua yang telah kulakukan. Sunggu! aku
menyesali Keegoisanku membuatku harus menebus kesalahanku. Demi Fiki, aku rela
bahkan jika jantungku mesti kuberikak.
Dia bukan sengaja membohongiku mengenakan gamis dan jilbab lebar.
Ayahnya berkehendak demikian. Dia juga bukan sengaja menyakitiku dengan main
drum. Sebagai seorang guru yang sedang dipresser sebagai calon manajer
sekolah. Fiki harus mengabdikan dirinya di MA. Annida. Di sana ia benar-benar
curahkan perhatiannya kepada siswa. Bahkan ketika sekolah mereka mengutus group
band terbaik sekolah untuk dilombakan. Karena drummernya tiba-tiba sakit, maka
mau tidak mau Fiki yang sudah pernah punya basic nge-durm menggantikan posisi
Wawan. Itupun setelah menang akhirnya Fiki mengajak murid-muridnya untuk
mengaku bahwa ada salah satu personilnya yang bukan siswa sekolah. Karena imut
Fiki jadi ga' kentara.
Fiki juga sebenarnya punya pacar, tapi langsung diberi ketegasan
dan pengertian. Fiki bilang terlalu takut menyakiti dan mengecewakan hati orang
tuanya.
Dan akuyang begitu sombong dengan ilmu yang Allah titipkan
tertampar dengan kejadian ini.
"Fik…!” kugenggam tangannya erat. Fiki menjawab dengan senyum
lemah.
“Maafin aku Fik… aku… minta maaf Fik…” lagi-lati Fiki hanya
tersenyum. Pucat.
“Aku juga minta maaf. Iain kali kalo nyebrang liat-liat dulu… hemh…
ketabrak dech!" ujarnya lemah.
Oh Tuhan, salahku yang meninggalkannya begitu saja. Salahku tidak
mencegahnya mengejarku ke jalan raya. Salahku yang tidak bisa membaca
kesungguhan dan kemuliaan hatinya.
"Maaf Pak. sudah waktunyal" seorang suster menghampiri kami.
Kugenggam lebih erat tangannya. "Fik. Kuat yah, kita akan
menikah...!"
Dan kubimbing dipan rodanya memasuki ruang operasi. Pendarahan di
kepalanya mengharuskan itu.
Ya Allah, jika bisa kugantikan posisinya. Jika bisa kuberikan raga
ini padanya. Jika bisa kugadaikan jantung ini untuknya. Akan kulakukan
semuanya. Demi kesembuhannya. Dia punya masa depan. Dia punya harapan.
Sedangkan aku? Sepertinya sudah tak pantas lagi menjadi seorang manusia.
Dan karena kelelahan aku pun tertidur Tidur yang membawaku ke alam
mimpi. Di sana Fiki mengenakan baju gamis merah marun derai-derai. Cantik
sekali. Jilbab lebarnya berayun-ayun tertiup angin. Dia tersenyum dan
melambaikan tangan.
Sedetik kemudian aku terbangun. Sadar kalau itu hanya mimpi, dan
tak sabar kuburu ruangan operasi. Pintunya terkunci. Dan aku lemas di pangkuan
umi.
“Fi… ki… Fi… ki”
Wahai sang mentari, jangan pernah ingkar janji. Tetaplah terbit di
ufuk timur, dan terbenam di ufuk barat. Tetaplah menebar cinta di setiap denyut
nadi. Menabur kasih di sejagat alam ini.
♥♥♥♥♥
Epilog
Dan mentari memang idak pernah ingkar janji. Sebulan kemudian
kesehatan Fiki kembali pulih. Mereka janji setia dengan penghulu setelah akad
di Masjid At-Tin TMII.
“Alkhobisatu lil Khobisina wal khobisuna lil khobisat… wal
Toyyibatu littoyyibina wal toyyibuna lil toyyibat…” (Q.S. Annur: 26)
♥♥♥♥♥
A. Unsur Intrinsik dari cerpen “Janji
Mentari”
1. Tema: Harapan dan Takdir
2. Tokoh:
ü Tokoh utam: Ahmad Wildan Wahyuddien
ü Tokoh utama: Fiki Faradaise
ü Tokoh penengah:
Maysarah
ü Tokoh figuran: Ayah May,
Shane, Ayah, Umi, Rai, Ncang Romi, Ncing Sahara.
3. Alur cerita:
Alur maju,
karena cerita tersebut menceritakan peristiwa yang sedang terjadi saat itu,
bukan sebuah flashback/ peristiwa yang sudah lampau.
4. Latar:
A. Latar tempat:
ü Universitas
Al-Azhar Cairo
ü Apartement
ü Rumah
ü Tepi kolam
ü Grand Mall
ü Kantor
ü Sekolah MA Annida
ü Kebun
ü Ruangan kecil
artistik
ü Rumah sakit
B. Latar suasana:
ü Bahagia
ü Sedih
ü Kesal
ü Menyesal
C. Latar waktu:
ü Malam
ü Seminngu menjelang
pernikahan
5. Sudut pandang:
Sudut pandang
yang digunakan dalam cerpen di atas ialah sudut pandang orang pertama.
6. Gaya bahasa:
Gaya bahasa
yang digunakan pada cerpen di atas yaitu bahasa sehari-hari atau tidak baku.
7. Amanat:
ü Apa yang kita
harapkan atau kita iginkan belum tentu dapat kita capai karena, pada sejatinya
manusia hanya bisa berharap dan berencana dan Allah Ta’ala lah yang memutuskan apakah
hal itu baik atau tidaka.
ü Mintalah petunjuk
dan segala sesuatu kepada Allah Ta’ala.
ü Kejarlah
cita-cita dengan bersungguh-sungguh.
ü Berbaktilah kepada
orang tua salah satunya dengan mematuhi apa yang dia perintah atau katakan
karena, apa yang orang tua pinta pastilah itu hal yang baik bagi kita tidak ada
orang tua yang meningnginkan keburukan terjadi pada kita.
B. Opini tentang
cerpen “Janji Mentari”
1. Kelebihan dan
Kekurangan Dari Cerpen Di atas:
A. Kelebihan
ü Tata bahasa
yang di gunakan sangat bagus.
ü Bahasa yang
digunakan dalam cerpen termasuk bahasa non-baku, sehingga membuat pembaca menjadi
mudah memahami isi cerita.
ü Alur cerita
yang digunakan tidak membuat pembaca bingung.
ü Terdapat
amanat yang bagus di dalam cerita
B. Kekurangan
ü Tidak terlalu
banyak terangan waktu sehingga sulit untuk mengimajinasikannya dalam pikiran.
ü Ending cerita
atau jalan cerita bagian akhir yang kurang jelas, sedikit membingungkan.
Terimakasih!!
وسلام عليكم ورحمة الله وبركاته