Jumat, 26 Mei 2023

PUISI ANAK

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Hello Kawand! Kali ini, aku membuat sebuah puisi anak yang berjudual “Naik Busway Biru” Selamat membaca 😊


 

Naik busway biru

Karya: Zaza Bella

 

Suara mesin bis berbunyi dan mengeluarkan asap

e-money di gunakan untuk membayar

Roda-roda bis berputar mengelilingi kota

Pintu bis terbuka otomatis

Hujan turun wipwer bis memberishkannya

Lampu sein menyala meberi tanda belok

Jalanan padat klakson berbunyi nyaring

Penumpang naik danturun di halte bis

Hati riang berkelilling kota

Bionarasi

Zazabella adalah sebuah nama pena yang kupakai dan diambil dari nama asliku, sedangkan nama asliku adalah Zaza Bella Ummi Rahmah. Aku merupakan seorang mahasiswa yang tengah berjuang untuk mendapatkan gelar S-1 ku disebuah Universitas Islam Negeri. Ya, aku sedang menempuh pendidikannku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan jurusan yang aku ambil Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah, dan sekarang aku berada di semester 4.

Terimakasih!!

 

وسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Jumat, 19 Mei 2023

Review cerpen "Kumpulan Cerpen Islami: I Just Wanna Say, I Love You!!!"

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Hello Kawand! Kali ini, aku mau review salah satu cerpen dari buku yang berjudul "Kumpulan Cerpen Islami: I Just Wanna Say, I Love You!!!" karya Lulu El-Maknun. Selamat membaca 😊


Janji Mentari

KUPUJA asma Allah di kesejukan udarayang kuhirup. Kubingkai ribuan syukur yang menyemak di hati. Pada segala ni'mat Tuhan yang telah kuterima. Pada hawa sejuk yang memenuhi ronggarongga dada. Aku terbuai dalam puncak syukur. Betapa hanya dengan kuasa-Nyalah hari ini. aku wisuda.

Namun ada sekat menyungkit-nyungkit dada. Ada sesal berat menggayut. Pasalnya. ayah dan umi ngga’ bisa hadir menyaksikan ceremony kelulusanku. Aku maklum sich, jarak antara Indonesia dan Cairo ngga’ dekat. Ada sedikit iri menyaksikan sobat-sobat. Di hari bahagia ini mereka diberi izin oleh Allah mengabadikan bersama family mereka. Biar kutelan sendiri cemburuku. Aku toh bukan anak bontot yang mesti merengek-rengek minta mereka jauh-jauh ke sini menyaksikan cumlaudeku. Allah sebaik-baik stiradara. ko'!

Akh Willy! Assalamu’alaikum!” suara lembut Maysarah menegurku.

“Wa'alaikumsalam!” aku membalikan tubuh menghadapnya. Sedikit terkejut. Maysarah menghampiriku bersama orang tuanya. Kusapa mereka ramah.

“Assalamu’alaikum!” disusul dengan meraih punggung tangan mereka. Menciumnya tazim.

Ya Wildan, mata tarji’ ilal bayt?”[1] logat berat dosen kelas kakap itu sangat familiar.

Godan stadz InsyaAllah!”[2] jawabku hormat.

“Ma syai’. Ballig salaami ma’a abuka!”[3] Ayah May menjabat tanganku hangat. Jujur, aku sampai ge’er. Jarang loh mahasiswa Al-Azhar yang berhasil menarik hati profesor yang satu ini. Apa karena aku setuju jadi calon menantunya yah? Wah ge’erku semakin menjadi.

Toyib akh, narji’ awalan!”[4] May mengakhiri pertemuan.

“Assalamualaikum!" pamitnya manis.

"Wasalaikumsalam warahmatullah!" kulepas pertemuan singkat ini dengan dada menderu.

Umi May begitu menjaga perilaku sehingga terkesan pendiam. Ayah May selalu tampak wibawa dan gagah. Aku jadi berangan, bilakah tiba saatnya aku dan Mayyang seperti itu. Huss! Sudah. Ngelantur aja.

♥♥♥♥♥

Jarak antara fakultas dan asrama cukup jauh. Al-Azhar bukan kampus yang kecil. Ribuan mahasiswa giat menuntut ilmu. Kadang aku merasa termasuk orang yang beruntung. Di tengah kemelul krisis dan kecamuk konflik di tanah air. aku masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mencari ilmu. Di Al-Azhar pula! Sebuah kampus yang sejak MTs menjadi cita-citaku. Dan kini, setelah lima tahun. aku berhasil merampungkan studiku. Ahmad Wildan Wahyuddien. Lc.

Berat rasanya meninggalkan Cairo. Banyak sekali kenangan yang terukir di sini. Kulepaskan pandangan keluar jendela. Dari lantai 20 ini aku biasa menyaksikan beragam peristiwa yang melewati hidupku. Dari mula pertama aku tiba di Cairo. Hingga kini saat tiba waktunya kembali. Kubiarkan hayal dan angan berserak dalam benak. Kurelakan lembut angin sore menyapu rambuku. Kalau boleh jujur, ingin rasanya mereward masa kembali. Saat-saat belajar dan menghafal. Saat-saat keletihan meraup ilmu. Segala cerita tentang suka dan duka.

Dan lagi sejak masa ujian akhir, aku sedang dekat-dekatnya deng Maysarah. Kalau sekarang aku mesti kembali. rasanya terlampau berat. Berat meninggalkan Cairo, berat meninggalkan kampus, berat meninggalkan kenangan. berat meninggalkan...May. Kami memang tidak pernah punya ikatan. Hanya sering sepaham dalam kajian dan diskusi menumbuhkan rasaku padanya. Sepertinya dia pun sama. Tapi mengapa rasa ini bersemi ketika aku harus bersiap-siap mengabdikan diri kepada ilmu pengetahuan di kampung halamanku.

Dalam hati kuberdoa, wahai mentari jingga di ufuk senja, berjanjilah padaku. Jika kau selalu setia menjaga cinta dengan sinarmu. Maka pertemukanlah aku dengan muslimah yang paling baik untukku. Menemani perjuanganku. mendukung perjalananku. Dan berama kami meniti langkah mencapai mardotillah.

"Will, congratulation!" tiba-tiba Shane menegurku. Senyum khasnya masih seperti dulu. Saat kami baru sekamar di asrama ini. "Syukronl" jawabku.

"And when you get home? I’ll be missing you!” Shane merajuk. Dasar si bontot.

"Tomorrow mybe. we can sending e-mail isnt'it?” kutepuktepuk pundak Shane. Di kamar ini kami cuma berdua sejak tahun pertama. Karena belum menyelesaikan SKS dia belum boleh lulus.

"Don't forget. someday. ifyou come to Cairo again, mybe you want to meet Maysarah. come to here!" godanya berbisik. Aku menjawabnya dengan satu cubitan gemas di perutnya.

"Aaauw! Shit!" Shane meringis sambil memegan8i bulatnya.

Segala cinta, segala cerita. Biarlah terukir dalam palung.

♥♥♥♥♥

Haru banget! Ayah merangkulku erat. Tenggorokanku tercekat. Titik-titik bening tak tertahankan. Lima tahun sudah aku memohon restunya meninggalkan rumah. Bergantian umi memelukku. Mengusap kepalaku. Aku merunduk hingga sebahu. Alhamdulillah, beribu pujian bertabur.

Adikku satu-satunya. Raihan Maulana membantu mengangkat koper-koper ke bagasi. Tahun ini dia kelas Ⅲ SMA katanya. Sudah seganteng aku dia!

Tiba di rumah ada sedekahan keluarga. Saudara jauh berdatangan memberiku selamat. Aku terbawa suasana. Lelah seketika sirna. Padahal belum sempat istirahat. Dan lelucon klasik menyerangku dari berbagai penjuru.

"Udeh ganteng, Pinter. siapeye kire-kire jodohnye?" Ncang Rohim mulai mengeluarkan jurus joke-nya. Wah! Mulai dech. Mukaku memerah.

"Lha Cang, jangan kuatir. Urusan ntu mah udeh ade nyeng ngatur, bukan begitu Dan?" bela Ncing Sahara. Sedikit lega. Aku hanya mengangguk. Sambil senyam-senyum.

"Bukannye begitu. Ni perjake kalo musti jadi ama orang yang kage sekufu pan sayang jadinye!" tangkis Ncang Rohim. Ayah dan umi cuma mesem-mesem. Bantuin dooong. batinku.

"Ehm. kali-kali aje di Arab sono ade nyeng nyantol! Pan orang sono idungnya bangir-bangir katenyel" Rai ikut-ikutan. Aku mendelik. Dalam hatiku meniyakan tapi pura-pura marah. Jaim! Iya May bangir ko.

“Pegi mane ni. Bang?" alis mata Ncing Sahara naik turun. Lirikannya tak lepas dariku. Membuatku tersapu-sapu. nah lho?

"Yaah. namenye jodoh mah kita balikin ama Tuhan dah. Tapi bener juge Sich kate si Rohim. Nyari jodoh musti nyeng sekufus” Ayah beropini ake dari bijak. Aku Cuma manggut-manggut.

“Make dari pade itu. Gue udeh nyiapin bakal bininya si Wildan” Ayah melanjut. Deg! Oh my go!

“Kita kenalin die ma bontotnya Aji Burhan Kadepag Cilandakl Nameye...Fiki kalo ngga saleh!" komentar ayah kali ini bikin jantungku berdebak-debuk.

"Jangan piki-piki[5] Beh?" rinci Rai.

"Namenye Fiki Faradaise! Kalo ngga saleh lagi nih. Dia udeh S1 jurusan Manajemen Pendidikan[6] di UIN Syarif Hidayatullah Jakarte!" sambung ayah.

Dan kepalaku jadi penat. Akhirnya kuputuskan pamit ke kamar untuk istirahat. Sebelum beranjak aku berpesan pada yang lagi ngeriung.

"Ehm, semuanye. Kalo boleh...." Aku ragu meneruskan

"Boleeeeh...!" yang lain serempak memberondong.

"Say mau istirahat dulu. Dan untuk masalah ini. saya…belum siap bicara banyak!" tegasku.

Tanpa kuduga mereka malah menjawabku. "Iye deh. lu istirahat dulu sono. Urusan ini mah biar kite-kite nyeng ngatur…”

Aku tak berdaya. Dan sepeninggalanku dari ruang itu masih kudengar samar mereka bercengkrama. Ngomongin aku!

♥♥♥♥♥

Kulempar kerikil-kerikil tak bersalah itu ke kolam. Ikan-ikan di kolam ini mungkin bingung demi melihat orang seganteng ini bermudurja. Rai tampak asyik dengan pancingnya. Dan sehembus angin menggerai-geraikan rambutku yang sebahu. Bete. Bingung. Dan... kangen!

Aku ngga' ngerti dan ngga’ tau lagi gimana caranya menghindar dari perjodohan ini. Salahku tak langsung mengelak. Dan bayang-bayang May mengusik kekosongan hati. Senyumnya mengukir lesung pipit di kedua pipinya. Ach!  Kaya’nya engga’ mungkin aku bisa menggantikan sosok cerdas May dengan warıita lainnya. Terlebih lagi, aku ngga' pernah kenal yang namanya Fiki. Mungkin benar kata Rai tempo hari. Jangan piki-piki!

"Daaaan...!" tinggi suara Rai memanggil. Aku baru sadar kalau dia sudah menghentikan aktifitas memancingnya sejak tadi. "Dipangil nyokaaap! Kita udah siap mau berangkaaat," sambungnya

" Iyaaaa…” sahutku tak kalah merdu. Hampir percis kaya di hulan. Aku Tarzannya dan Rai monye... "Daaaaan cepeeeet!" teriaknya lagi. Aku ngga’ berdaya. Kubuang sebatang rumput yang sudah pipih kugigit-gigit.

Hari ini ayah dan umi mengajakku ke rumah Haji Burhan. Silaturrahmi katanya. Tapi maksudnya jelas: mengenalkanku pada si Piki-Piki.

"Sudah siap? Cabuuut!" Rai cuwek beibeh mengenakan kaos "Drem Theater" kesayanganya. Sementara aku? Rapih berkemeja dengan rambut dikuncir kuda.

Duhai Mentari. langan pernah ingkar janji untuk tidak terbil esok hari. Jangan pernah ingkar janji untuk tidak menyemai cinta hari ini. Hatiku deg-deg plas!

Rai mengemudikan Panther perlahan.

♥♥♥♥♥

Yang namanya Fiki cukup manis dan sopan. Sepertinya dia seorang akhwat sejati. Dia tidak memandangku sedikit pun. Wajahnya tertunduk dałam. Dan aku berhasil mencuri sketsa wajahnya yang terpantul dari kaca meja yang ia tekuni. Ketika pamit masih kulihat bulu mata lentiknya. Segaris senyumyang teramat manis dan... lesung pipit di pipi sebelah kiri. Namun demikian. belum bisa menggantikan kecantikan May dałam pusara hatiku.

"Terlalu kalem Dan. ngga pantes sama elu yang brekele’!" Rai ngga’ ada sopan-sopannya komentar keesokan harinya. Aku cuma nginyem. Belum tau dial

"Makannya Dik. Kakamu yang keche ini lagi bingung banget!" sahutku. "Bingung kenapa? Dapat anugerah ko’ bingung? Mestinya cewe’ itu yang bingung. Dan, Ya Allah, dosa apa yang sudah aku perbuat sehingga harus mendapat balasan musibah ngedapetin całon suami bajakan kaya’ Wildan!" Rai nyerocos memandang langit-langit kamar yang banyak ciceknya. Ngga’ sopan!

"Sebetulnya. pengen nolak Rai. Tapi apalah daya. Gatega sama umi!" aku melemparkan pandangan jauh ke luar lendela. Dan mendarat di kerlip gemintang malam ini. Suiiiing. Teplukl

Rai yang sedang asyik gigitan tułup pilot terhenyak. Tułup pilotnya hampir tertelan. Untung bisa diselamatkan. Terbatuk-batuk Rai menghampiriku. Ronanya cemas.

"Abang udah punya cewe’yah?" tanyanya gusar. sambil mengurut kerongkongannya. Tumben manggil abang. Aku mengangguk pelam dan kembali terpekur di bibir jendela.

Tanpa diundang cercah-cercah memori melintas menari-nari. Seriwing angin menambah syahdu galau hati malam ini. Duhai cinta, sedalam inikah rasamu?

♥♥♥♥♥

Sesuai saran Rai. aku menghubungi May. Dengan jiwa dia ucapkan selamat padaku. Dia sih bilangnya ikhlas. Asalkan aku bahagia. Padahal kan aku maunya dia ngga’ ikhlas. Minimal sesegukan ke’l. Tapi May memang bukan tipe perempuan lemah. Didikan Prof. Dr. Abdullah Jabbar. MA mengajarkannya berani menghadapi segala fenomena dan dinamika hidup.

Karena cara yang kutempuh lewat telepon, dan ini akhir bulan. Maka aku yang kebagian tugas membayar tagihan telepon. Yah itung-itung belajar nyetir. Dan jadilah sore ini pertama aku ke Mall, letak kantor telkomnya berada di lantai 3 Grand mall.

Suasana Mall hari Sabtu lumayan ramai. Rai ngga’ bisa ikut karena sedang menghadapi UAN. Jomblo dech. Belum jauh langkahku memasuki pintu utama, ada sekelabat bayang yang menggetarkan dadaku. Fiki! ltu kaya Fiki! Ngga salah lagi, itu pasti Fiki! Tapi... ngapain dia ikut-ikutan? Mana gamis derai-derainya? Ko' bisa dia ikutan acara kaya’ begini? Nge-drum lagi? Ya Allah. sudah rabunkah indera penglihatanku? Kudekati panggungyang dikerumuni anak-anak ABG. The Best Band Audition 2007. Begitu kira-kirayang tertulis dalam backgroundnya.

Wah! Bisa komplain donk! tapi otak bijakku bicara lain. Kutunggu sampai Fiki menyudahi tugasnya mengiringi lagu Bring Me to Life-nya Evanessance.

Ketika kuhampiri Fiki tampak sibuk. Sebelum berhasil kudekati Fiki sudah bergabung dengan rombongannya. Kostumnya cuwek abis! Pakai jilbab kecil, lepis belel, kaos hitam lengan panjang dan engga’ ada mirip-miripnya sama akhwat pemalu yang baru kemarin kutemui. Dan aku mesti rela kehilangan jejaknya ketika seorang ibu gemuk terjatuh dengan belanjaan berhamburan.

"Ganteng-ganteng ngga’ punya mata!" maki ibu itu.

"Maaf, Bu!" aku cuma bisa istighfar.

♥♥♥♥♥

“Ga' mungkin Bang!" dengan kedewasaanku Rai sudah terbisa memanggilku abang.

“Ya udah, kamu cari tau ya Rai. Nama band-nya… apa yach. Oh ya Chimoet GX!” ujarku sambil merapihkan ijazah, sertifikat dan piagam penghargaan yang kuperoleh selama studi.

“Oche dech Bang. buat Abang apa sich yang nggas aku lakuin?” gombalnya.

“Iya. percaya-percaya! Laptop itu boleh buat kamu ko’!" jawabku santai sambil menyeruput orange juice buatan sendiri.

“Lho ko’ Abang tau aku kepingin banget laptop Abang?" tanyanya pura-pura bodoh.

“Ya tau lah, Abangmu ini kan pengertian!" aku mengangkat alis. Tapi hingga beberapa second alis yang kuangkat ga’ turun-turun. Nah Iho! Gimana nih? Rai tolongin dong!

♥♥♥♥♥

Ini tugas pertamaku di kantor ayah. Urusan pemberangkatan haji. Karena data yang kubutuhkan tidak ada maka aku harus mencari informannya langsung. Dia bekerja sebagai staff pengajar di MA. Annida. Terpaksa aku ke sana. Mungkin konsepan Tuhan demikian. Aku dipertemukan dengan Fiki di sekolah ini. Dia tidak mengenakan kostum se-ancur kemarin. Tapi juga tidak mengenakan gamis merah marun derai-derai. Kali ini Fiki mengenakan busana stelan, rapih. Kuberanikan menanyakan langsung padanya.

“Fiki, sedang apa di sini?" tanyaku setelah jarak antara kami cukup dekat.

“Lho. Kak Willy yang sedang apa? Fiki mengajar di sini!" jawabannya mengagetkanku. Pasti baru mulai karena waktu perkenalan tempo hari ayahnya mengatakan Fiki baru saja diwisuda dan belum mendapatkan pekerjaan.

Niatanku untuk bertanya lebih lanjut pupus. Karena bel masuk berbunyi. Andai kcsempatan itu kuperoleh aku akan bertanya kamu tiga bersaudara yah? Dan setelah mendapatkan data aku kembali ke kantor dengan membawa banyak sekali tanda tanya???

♥♥♥♥♥

Malam ini. Kutadahkan kedua tangan. Bermohon dan bermunajat pada-Nya. Sang Pemilik Segala. Kuadukan cacah ricah hali ini. Memohon petunjuk dan hidayah. Rencana pertunangan yang disepakati sudah kian dekat. Namun rasanya belum juga aku menemukan titik terang. Siapakah yang akan mendampingi perjuanganku. Melahirkan jundi-jundiku. Diakah yang bermahkotakan akhlak mulia dengan gamis panjang menutupi auratnya. Diakah yang mengabdikan hidupnya mengajar dengan metode yang sudah modern itu? Atau diakah yang menyukai musik keras dan sangat bertentangan denganku? Pada segala gerik di hatiku kuserahkan. Pada segala daya dan kelemahanku kupasrahkan. Hanya pada Engkau Wahai Segalayang Serba Maha.

Seminggu menjelang pernikahan. Nekat kudatangi rumahnya tanpa pemberitahuan sebelumnya. Samar kudengar suara musik mengalun. Kubelokan langkah. Bukan menuju pintu utama, tapi ke belakang. Kebun yang asri menghamparkan bebungaan. Pohon apel besar angkuh berdiri di sudut taman. Sebuah bangunan kecil namun artistik adalah sumber alunan musik itu. Aku melangkah maju dan suara musik itu berdegum-degum. Semakin dekat kian menghentak-hentak. Alangkah terkejutnya ketika kulihat Fiki sedang nge-Drum sendirian! Dan dia pun tak kalah kaget. Dengan jilbab dia keluar menghampiri ku.

“Kak Willy! ko ga' ngasih tau dulu kalo mau datang?” Dan sapanya kujawab pahit. “Sertinya kita tidak cocok!” bagaimana tidak? Aku yang lulusan Cairo harus menikah dengan gadis funky macam dia. Seleranya saja berbeda! Pola pikirnya pasti berbeda juga. Sangat tidak mungkin kalau aku disatukan dengan perempuan ini. Pikirku. Dan entah setan apa yang sedang mempengaruhiku, aku meninggalkannya tanpa memberinya waktu menjeiaskan semuanya.

♥♥♥♥♥

Dan kini. Aku mesti menyesali semua yang telah kulakukan. Sunggu! aku menyesali Keegoisanku membuatku harus menebus kesalahanku. Demi Fiki, aku rela bahkan jika jantungku mesti kuberikak.

Dia bukan sengaja membohongiku mengenakan gamis dan jilbab lebar. Ayahnya berkehendak demikian. Dia juga bukan sengaja menyakitiku dengan main drum. Sebagai seorang guru yang sedang dipresser sebagai calon manajer sekolah. Fiki harus mengabdikan dirinya di MA. Annida. Di sana ia benar-benar curahkan perhatiannya kepada siswa. Bahkan ketika sekolah mereka mengutus group band terbaik sekolah untuk dilombakan. Karena drummernya tiba-tiba sakit, maka mau tidak mau Fiki yang sudah pernah punya basic nge-durm menggantikan posisi Wawan. Itupun setelah menang akhirnya Fiki mengajak murid-muridnya untuk mengaku bahwa ada salah satu personilnya yang bukan siswa sekolah. Karena imut Fiki jadi ga' kentara.

Fiki juga sebenarnya punya pacar, tapi langsung diberi ketegasan dan pengertian. Fiki bilang terlalu takut menyakiti dan mengecewakan hati orang tuanya.

Dan akuyang begitu sombong dengan ilmu yang Allah titipkan tertampar dengan kejadian ini.

"Fik…!” kugenggam tangannya erat. Fiki menjawab dengan senyum lemah.

“Maafin aku Fik… aku… minta maaf Fik…” lagi-lati Fiki hanya tersenyum. Pucat.

“Aku juga minta maaf. Iain kali kalo nyebrang liat-liat dulu… hemh… ketabrak dech!" ujarnya lemah.

Oh Tuhan, salahku yang meninggalkannya begitu saja. Salahku tidak mencegahnya mengejarku ke jalan raya. Salahku yang tidak bisa membaca kesungguhan dan kemuliaan hatinya.

"Maaf Pak. sudah waktunyal" seorang suster menghampiri kami. Kugenggam lebih erat tangannya. "Fik. Kuat yah, kita akan menikah...!"

Dan kubimbing dipan rodanya memasuki ruang operasi. Pendarahan di kepalanya mengharuskan itu.

Ya Allah, jika bisa kugantikan posisinya. Jika bisa kuberikan raga ini padanya. Jika bisa kugadaikan jantung ini untuknya. Akan kulakukan semuanya. Demi kesembuhannya. Dia punya masa depan. Dia punya harapan. Sedangkan aku? Sepertinya sudah tak pantas lagi menjadi seorang manusia.

Dan karena kelelahan aku pun tertidur Tidur yang membawaku ke alam mimpi. Di sana Fiki mengenakan baju gamis merah marun derai-derai. Cantik sekali. Jilbab lebarnya berayun-ayun tertiup angin. Dia tersenyum dan melambaikan tangan.

Sedetik kemudian aku terbangun. Sadar kalau itu hanya mimpi, dan tak sabar kuburu ruangan operasi. Pintunya terkunci. Dan aku lemas di pangkuan umi.

“Fi… ki… Fi… ki”

Wahai sang mentari, jangan pernah ingkar janji. Tetaplah terbit di ufuk timur, dan terbenam di ufuk barat. Tetaplah menebar cinta di setiap denyut nadi. Menabur kasih di sejagat alam ini.

♥♥♥♥♥

Epilog

Dan mentari memang idak pernah ingkar janji. Sebulan kemudian kesehatan Fiki kembali pulih. Mereka janji setia dengan penghulu setelah akad di Masjid At-Tin TMII.

Alkhobisatu lil Khobisina wal khobisuna lil khobisat… wal Toyyibatu littoyyibina wal toyyibuna lil toyyibat…” (Q.S. Annur: 26)

♥♥♥♥♥

A.    Unsur Intrinsik dari cerpen “Janji Mentari

1.     Tema: Harapan dan Takdir

2.     Tokoh:

ü  Tokoh utam: Ahmad Wildan Wahyuddien

ü  Tokoh utama:  Fiki Faradaise

ü  Tokoh penengah: Maysarah

ü  Tokoh figuran: Ayah May, Shane, Ayah, Umi, Rai, Ncang Romi, Ncing Sahara. 

3.     Alur cerita:

Alur maju, karena cerita tersebut menceritakan peristiwa yang sedang terjadi saat itu, bukan sebuah flashback/ peristiwa yang sudah lampau.

4.     Latar:

A.    Latar tempat:

ü  Universitas Al-Azhar Cairo

ü  Apartement

ü  Rumah

ü  Tepi kolam

ü  Grand Mall

ü  Kantor

ü  Sekolah MA Annida

ü  Kebun

ü  Ruangan kecil artistik

ü  Rumah sakit 

B.    Latar suasana:

ü  Bahagia

ü  Sedih

ü  Kesal

ü  Menyesal

C.    Latar waktu:

ü  Malam

ü  Seminngu menjelang pernikahan 

5.     Sudut pandang:

Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen di atas ialah sudut pandang orang pertama.

6.     Gaya bahasa:

Gaya bahasa yang digunakan pada cerpen di atas yaitu bahasa sehari-hari atau tidak baku. 

7.     Amanat:

ü  Apa yang kita harapkan atau kita iginkan belum tentu dapat kita capai karena, pada sejatinya manusia hanya bisa berharap dan berencana dan Allah Ta’ala lah yang memutuskan apakah hal itu baik atau tidaka.

ü  Mintalah petunjuk dan segala sesuatu kepada Allah Ta’ala.

ü  Kejarlah cita-cita dengan bersungguh-sungguh.

ü  Berbaktilah kepada orang tua salah satunya dengan mematuhi apa yang dia perintah atau katakan karena, apa yang orang tua pinta pastilah itu hal yang baik bagi kita tidak ada orang tua yang meningnginkan keburukan terjadi pada kita.

 

B.    Opini tentang cerpen “Janji Mentari

1.     Kelebihan dan Kekurangan Dari Cerpen Di atas:

A.    Kelebihan

ü  Tata bahasa yang di gunakan sangat bagus.

ü  Bahasa yang digunakan dalam cerpen termasuk bahasa non-baku, sehingga membuat pembaca menjadi mudah memahami isi cerita.

ü  Alur cerita yang digunakan tidak membuat pembaca bingung.

ü  Terdapat amanat yang bagus di dalam cerita

B.    Kekurangan

ü  Tidak terlalu banyak terangan waktu sehingga sulit untuk mengimajinasikannya dalam pikiran.

ü  Ending cerita atau jalan cerita bagian akhir yang kurang jelas, sedikit membingungkan.

Terimakasih!!

 

وسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

 

 

 

 

 



[1] Hai Wildan, kapan kamu pulang ke rumah?

[2] Besok Ustadz, InsyaAllah!

[3] Oke, samapikan salamku pada Ayahmu!

[4] Baiklah, kami pulang duluan

[5] Jangan piki-piki: Salah satu judul lagu Project Pop

[6] Salah satu jurusan Kependidikan Islam fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

PUISI ANAK

  السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Hello Kawand! Kali ini, aku membuat sebuah puisi anak yang berjudual “ Naik Busway Biru ” Selamat membac...